Breaking News

Rupiah Anjlok ke Level Rp18.000 per Dolar AS, Sejumlah Media Asing Soroti Krisis Ekonomi Indonesia



Jakarta
— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi terpuruk ini langsung mendapat sorotan tajam dari berbagai media internasional, yang menyebutnya sebagai titik terlemah sepanjang sejarah perekonomian Indonesia.

Berikut adalah rangkuman sorotan dari tiga media asing ternama:

1. Al Jazeera: Lonjakan Biaya Energi dan Konflik Global

Media asal Qatar, Al Jazeera, menyoroti bahwa pelemahan rupiah ini didorong oleh lonjakan biaya energi di tengah eskalasi konflik global antara AS-Israel melawan Iran. Meskipun Indonesia memiliki cadangan migas yang melimpah, ketergantungan pada impor energi tertentu memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan.

"Tekanan yang dihasilkan pada neraca perdagangan telah berkontribusi pada arus keluar modal dan pelemahan mata uang," tulis Al Jazeera dalam laporan mereka.

2. Asia Times: Kritik Keras Keterlambatan Respons Bank Indonesia

Sementara itu, media Hong Kong Asia Times menyoroti bahwa krisis ini bukan sekadar persoalan kekuatan dolar AS, melainkan akibat respons pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang dinilai "terlalu lambat, ragu-ragu, and tidak konsisten." Asia Times menilai keruntuhan rupiah sudah berada di tahap kelebihan beban ekstrem (extreme overload), yang diperparah oleh kepanikan pasar, pelarian modal besar-besaran, serta krisis likuiditas dolar akut. Bank sentral disebut sempat terlena oleh angka inflasi domestik yang sempat moderat di angka 2,42 persen pada April 2026, sehingga instrumen non-suku bunga yang diterapkan gagal membendung kejatuhan rupiah.

3. The Straits Times: Sentimen Negatif Kebijakan Komoditas

Dari Singapura, The Straits Times melaporkan bahwa kejatuhan rupiah terjadi secara bersamaan dengan rontoknya pasar saham di Indonesia. Investor dihinggapi kekhawatiran mendalam bahwa tingginya harga minyak dunia akan terus menggerus keuangan negara. Selain faktor global, sentimen pasar turut diperburuk oleh rencana kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang akan mengendalikan secara langsung ekspor sejumlah komoditas penting nasional.

Krisis yang sedang berkembang ini menuntut langkah taktis dan konsisten dari otoritas moneter serta pemerintah guna memulihkan kepercayaan investor serta meredam kepanikan di pasar domestik.


 

© Copyright 2026 - Bewara Siliwangi